Qadar tidak selalu sesuai dg keinginan kita. Namun dg segala keterbatasan yg ada, kita tidak bisa memahami mengapa qadha dan qadar harus seperti itu. Dengan demikian, kita tidak dalam posisi untuk mengajukan alternatif, namun kita dalam posisi beribadah dg segala kepasrahan diri.
Ketika orang-orang mulai bertanya..: Kok bisa?
Percayalah saya juga sama seperti kalian semua, saya juga gak bisa…saya juga sedih
Tapi itulah takdir yang kita jalani berbeda-beda…;-)
Dengan terus bersedih, bukan cara bijak menyelesaikan ini.
Saya hanya mampu berdoa, pasrah…semata untuk mendapatkan penguatan hati. Saya sama rapuhnya kok walau tampak tegar atau bahkan tak berperasaan.
Kadang, saya hanya butuh sedikit empati…kalau lagi egois pingin banget bilang; toh kalian tidak pernah berada dengan situasi yang sama…bener-bener sama seperti yang saya alami..makanya kalian enteng banget berkomentar…bahkan pertanyaan Kok bisa? Terkesan merendahkan…seolah saya manusia paling tega..:-(
Tapi sudahlah..bersyukur Tuhan masih memberi kewarasan, memberikan saya kekuatan dg memberikan jawaban ringan2 saja..tidak membiarkan amarah menyulut…kalau pun hati saya sedang tak karuan bersyukur saya masih sanggup menjawabnya dg senyuman (walau kadang bener-bener dipaksakan;-)
Selalu ada keinginan…selalu saya berdoa agar kondisi ini berubah…dan segala prahara mendapatkan pencerahan yang indah dari Sang Pencipta O:-)
(amin)
Depok