Posted by: duniaires on: Desember 23, 2009
Ehm, akhirnya kembali juga ke Jakarta, kangen liat blog, mampir sebentar ke warnet, walaupun si abang udah tat tit tut sms, ingetin jangan lama-lama, siap bos hehehehe
Saya hanya ingin menyampaikan ini :
Dia bersedia nahan malu waktu gadis kecilnya berkelahi di sekolah dan harus menghadap kepala sekolah,
Dia cukup tabah melihat pola tingkah gadis kecilnya yang mulai remaja dengan emosi yang meletup-letup,
Dia Rela anak perempuan satu-satunya menikah dengan seorang pria seberang, yang dia khawatirkan akan diboyong ikut suaminya,
Dia bersedia menjadi wasit yang adil ketika anak dan mantunya terlibat perang dunia, dan
Dia cukup sabar harus bolak-balik kampung – Jakarta ketika cucunya membutuhkannya….
Dia MAMAKU, (selamat hari ibu ya ma…)
Tiba-tiba saya, teringat juga perkataan seorang teman, dia bilang “Kalau cari cewek sih gampang Res, yang susah cari ibu untuk anak-anakku …..” (maklum dia ini seorang duren alias duda keren). Sekilas, terkesan kalau perkataannya seolah merendahkan seorang perempuan, begitu gampangnya kah ? namun kalau ditelusuri lagi, mungkin maksudnya “Perempuan sejati baginya adalah perempuan yang bisa berperan sebagai ibu”
Entahlah……..
NB:
Tulisan ini saya dedikasikan untuk ibu saya, yang saya tahu pasti beliau tidak akan pernah membuka internet dan membacanya, hehehe, maklum ibu saya tinggal di kampung dan tidak pandai membuka komputer hehehhehe (maaf telat satu hari ya hari ibu kan kemarin…)
Posted by: duniaires on: Desember 11, 2009
Ehm, ini hari terakhir bekerja, artinya dalam tiga minggu ke depan saya akan menikmati hari-hari bersama Khal seharian penuh ! ehm, waktu yang mahal tampaknya hehehe…
Hari ini, seperti ingin memborong semua ide dalam pikiran saya untuk saya tumpahkan dalam tulisan karena saya pasti kangen menulis, saya tidak memiliki akses internet di rumah, jadi ya hanya di sekolah saya bisa menuangkan semuanya.
Khalila, ah tahun akan berganti, putri kecil saya, bajunya sudah mulai kekecilan, tampaknya Khal mulai berganti ukuran. Sekarang, Khal mulai berteriak kalau dia pup, Khal tunjuk tangannya ke arah pampers, pertama saya bingung kenapa Khal teriak-teriak, gak berapa lama sreng saya cium bau sesuatu nih…dan kembali Khal lakukan hal yang sama ketika dia pup keesokan harinya. Sungguh, merupakan kejutan buat saya, seingat saya tak pernah ajarkan potty training buat Khal, bukan karena apa-apa, namun lebih kepada karena di rumah saya hanya ada wc jongkok bukan wc duduk, jadi saya bingung bagaimana mengajarkan potty training tersebut. Memang, tidak besar, hanya memberitahukan kalau dia pup, yah mungkin nanti ketika kosakatanya bertambah baru bisa saya ajarkan untuk bilang sebelum pup.
Peralihan Khal ke susu UHT juga mulai saya lakukan, semula Khal mengkonsumsi susu berlabel HA. Ini merupakan saran Pak DSA, karena dulu Khal sangat rentan dengan batuk, kata DSA kasihan kalau dikasih obat terus menerus, mungkin ini karena alergi susu, karena alergi tidak selalu muncul gangguan pada kulit namun bisa juga terjadi gangguan pernapasan, salah satunya ya muncul batuk itu. Memang, setelah minum susu HA batuk Khal banyak berkurang. Sekarang, Khal sudah berusia lebih dari satu tahun, saya rasa tidak apa-apa mencoba UHT dan saya pilih rasa plain, Alhamdulillah Khal mau dan tidak ada reaksi mencret.
Ah itu sekelumit cerita saya tentang Khal, lalu seorang teman bertanya apa resolusi saya di tahun depan ?
Resolusi, saya bingung harus menjawab apa ? Saya termasuk orang yang lebih suka mengalir apa adanya, dari tahun ke tahun saya tidak punya resolusi khusus. Bukan bermaksud apa-apa, saya kenal diri saya, takutnya resolusi hanya menjadi daftar belaka tanpa ada pelaksaanaan apapun yang saya lakukan, saya takut ini akan menjadi beban atau rasa bersalah saya, yah tapi itu semua kembali ke pribadi masing-masing orang. Hanya saya berharap, diberikan kesempatan lebih banyak untuk menghadapNya, berkomunikasi denganNya, dan lebih banyak waktu sujud kepadaNya, mohon ampun atas segala dosa yang telah saya lakukan di tahun yang lalu.
Posted by: duniaires on: Desember 11, 2009
Sabtu kemarin, setelah absen cukup lama, saya kembali ke kampus untuk bimbingan tesis. Namun, dosen saya kali ini belum pernah saya jumpai untuk bimbingan, asli saya tidak ingat wajahnya, maklum saya mempunyai dua dosen pembimbing. Satu kata untuk saya deh ‘payah.com’ hehehehe begitu kata teman saya.
Saya duduk di bangku, TU kampus, tak lama muncul seorang ibu tergopoh-gopoh mengatakan kalau hari itu ban mobilnya kempes sehingga dia telat mengajar, mukanya asam, bt, sebal, pokoknya tampak tak bersahabat. Setelah mengambil absent mahasiswa dan proyektor, dia menengok ke arah saya sekilas pandang, masih dengan ekspresi kesalnya. Saya yang sudah lama menunggu, sebel juga kok saya dilihatin dengan tampang seperti itu, memang salah saya apa ? saya juga gak kalah kesal kok sudah menunggu hampir dua jam. Ehm, tetapi mengapa saya harus ikut-iktan asam, ah gaklah hari saya jangan dikacaukan hanya dengan sepasang tatapan matanya. Ya sudah, saya senyum saja pada si ibu walaupun pada akhirnya beliau membalasnya dengan senyum kecut hihihi.
Saya : Pak yang mana ya namanya bu Endah ?
TU : tadi udah kesini mbak ?
Saya : hah masa sih yang mana ya pak ?
TU : itu yang tadi yang datang telat karena ban mobilnya kempes.
Saya : Hah yang bawa proyektor itu pak ?
TU : iya bu Endah kan (menegaskan kembali)
Saya : (mengangguk) makasih ya pak (ah untung saya senyum tadi kalau ikutan asam atau jutek apa jadinya saya ? bisa gagal bimbingan wkwkwkwkwkwk )
Peristiwa lain,
Saya selalu melewati gang kecil, kalau mau pulang ke rumah, maklum rumah saya hanya kontrakan kecil saja. Di dekat gang itu, saya lihat sebuah rumah, saya selalu melihat seorang wanita paruh baya, maaf ya,sekilas kalau dilihat penampilannya persis seperti orang yang kurang waras. Bajunya lusuh, rambutnya hampir botak, tipis sekali, ditangannya terlihat karet-karet gelang, tatapan matanya juga seram. Dia selalu menyendiri, kalau saya lihat pasti sedang duduk sendiri di teras rumahnya.
Entah mengapa, saya pasti menoleh ke arahnya, saya hanya bisa tersenyum untuknya, walaupun terkadang dengan caranya melihat, dalam hati saya takut juga. Begitu terus, pokoknya kalau lewat rumahnya, saya Cuma senyum, terkadang dia membalasnya sering juga tidak. Sampai suatu hari, dia berada depan pagar rumahnya, saya lewat kemudian menegur saya
Ibu : Baru pulang ya mbak ?
Saya : iya bu ?
Ibu : ibunya Khalila ya ?
Saya : (oh, ternyata dia mengenal Khal juga, yah maklum kalau sore memang Khal suka berjalan-jalan sekitar gang rumah) iya bu.
Ibu : Makasih ya mbak ?
Saya : untuk apa bu?
Ibu: terima kasih untuk mau senyum sama saya, tidak takut sama saya, tidak menganggap saya orang gila mbak, karena banyak orang beranggapan begitu, sehingga mereka suka takut mbak berdekatan dengan saya.
Saya ; sama-sama bu, maaf saya duluan.
Saya tidak menyangka dia menganggap sebuah senyuman itu begitu dalam, senyum kecil yang membuatnya merasa berarti sebagai seorang manusia, pelan-pelan saya mulai memaknai ungkapan yang mungkin sudah dikenal banyak orang bahwa :
Senyum itu Ibadah ……=)
Posted by: duniaires on: Desember 10, 2009
Senin siang, saya mengakhiri jadwal mengajar saya di kelas tiga. Anak-anak seolah kelebihan energi, maklum jadwal mengajar saya setelah jam makan siang. Aduh susah bukan kepayang deh, kalau mengajar pada jam-jam segini, ehm, akhirnya nada saya mulai meninggi disertai tatapan mata dingin tentunya hehe. Anak-anak langsung ciut, lalu dengan nada yang sama, saya panggil nama salah satu murid saya :
“Imran , ayo baca dongeng Kisah Enam Gadis yang ada di buku teks halaman sekian (lupa halamannya hehe)”
“ Saya Umar Ms bukan Imran …..(dengan nada datar) ….”
Sontak seisi kelas tertawa terbahak-bahak ….=(
NB :
Siapakah Umar dan Imran ? anak kembar bukan kok, tetapi sepasang kakak beradik saja siswa baru yang berasal dari Malaysia, mirip banget ya ? ah jelas berbeda, kok, lah si Umar baru kelas tiga SD sedangkan Imran kelas 2 SMP , lalu kenapa saya bisa salah ya ?wkwkwk harap maklumlah……
Posted by: duniaires on: Desember 9, 2009
Hari itu saya menerima telepon dari seorang sahabat, sudah lama saya ingin tahu kabarnya, untuk beberapa waktu dia menghilang, tiba-tiba dia tidak kuliah lagi, saya sudah berusaha menghubunginya baik melalui telepon atau sms namun nihil, tidak pernah ada respon apa-apa.
Baru terdengar kata “Halo” darinya, saya sudah memberondong pertanyaan ini itu, bagaimana kabarnya ? kenapa tidak kuliah lagi? dan sebagainya. Samar-samar saya mendengar suaranya, tapi tunggu suaraya parau, kenapa ? tak berapa lama dia menangis, saya makin penasaran. Akhirnya dia menumpahkan, semuanya, ya semuanya.
Intinya dia bercerita bahwa kini dia tidak bisa kuliah lagi, dia juga memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Semua itu terjadi karena ada badai dalam rumah tangganya, badai yang terjadi menjelang usia pernikahan yang ke lima. Banyak orang bilang bahwa dalam usia ini, perkawinan memang sedang diuji kalau berhasil melewatinya maka ini berarti berada pada titik aman pertama, namun saya tidak tahu apakah ini mitos atau bukan ?. Dia bercerita suaminya berselingkuh dengan wanita lain, tepatnya teman satu kantornya, dan wanita itu hamil !
Masya Allah, saya tidak dapat berkata apa-apa, sungguh saya tidak tahu harus bagaimana, dia berkata :
“Kalau saja suamiku ijin untuk meminta poligami, mungkin aku bisa belajar untuk menerimanya, tetapi ini sungguh jauh lebih menyakitkan….”
Sungguh sebuah pernyataan yang terus saya ingat, saya tidak menyangka pikiran dan pemahamannya bisa sebesar itu….
Katanya, matanya sakit kalau melihat cahaya, akibat terlalu lama dalam gelap, terlalu lama dia menangis,
ehm, setelah kejadian itu, beberapa waktu berlalu, saya mendengar solusi darinya kalau pada akhirnya dia memutuskan kembali dengan suaminya, memaafkannya, namun tentu dengan proses juga, proses marah-marah, bahkan sampai melempar baju-baju suaminya he. Kalau untuk masalah wanita itu dia tidak menjelaskan, dan saya juga tidak mau bertanya, saya takut itu akan mengusiknya lagi.
Ya Allah, saya kagum padanya, kagum akan ketabahan dan kesabarannya, walaupun hingga kini dia tidak pernah kembali kuliah atau bekerja, dia menjadi ibu rumah tangga, hidupnya sedang ada pada titik balik, dan setelah lima tahun juga mereka menunggu ingin punya anak kedua, kali ini Allah memberikan jawabannya teman saya positif hamil.
Anaknya laki-laki lagi , saya mendapat kabar ini berselang 9 bulan kemudian, inilah kehendak Allah, kelahiran putra keduanya semakin mempereratkan ikatan keluarga mereka. Ah, saya turut senang, teman saya hanyalah seorang istri, seorang istri yang luar biasa. Dan, sebuah ucapan manis dia tulis dalam status di facebooknya, saya lupa persisnya mungkin kira-kira begini :
“Being your wife is a great adventure, thank-you for being the best partner in my life. Thank you for deal with my super-ego. Thank you for allowing me to scratch your hand and pull your hair when born our son. I just wanted to say happy birthday. I love you my husband … ..”
Lucu, menggelitik, dan saya tahu persis dia selalu apa adanya ….=)
Posted by: duniaires on: Desember 8, 2009
Suatu hal yang lumrah, kalau kami para ibu-ibu muda, berkumpul di ruang guru, topik anak selalu menjadi bahasan utama deh….sama seperti ibu-ibu lainnya, he…
Ms Adelia, sekarang dia tidak lagi mengajar di sekolah saya, dulu dia mengajar mandarin, saya ingin mengingat obrolan-obrolan kami, karena usia anaknya lebih tua dari anak saya, jadilah saya banyak belajar dan bertukar ilmu dengannya….
Salah satu curhat saya, adalah tema “dilemma ketika harus berangkat kerja di pagi hari “
Hari itu dia curhat bagaimana beratnya pergi kerja :
Adel : Ms tau gak hari ini saya sampe nangis mau tinggalin Sam kerja ? (Sam = ini putra pertamanya yang usianya kira-kira 2.5 tahun)
Saya : Kenapa Ms ?
Adel : Gak tau Sam lagi manja banget sama saya, tadi pagi dia ampe meraung-raung mau ikut saya ?
Saya : (Cuma bisa mendesah, saya mengerti sekali perasaan itu !)
Adel : Pulang kerja, saya berusaha kasih pengertian ke Sam, Sam kalau mami kerja Sam jangan nangis ya sayang, mami kerja kan untuk Sam juga, biar bisa beliin susu.
Saya : mengangguk, saya setuju dengan caranya memberikan pengertian ke Sam.
Adel ; tapi tahu gak Ms apa yang terjadi ?
Saya : Apa ?
Adel : Saya dengar dari pengasuhnya Sam mogok minum susu?setiap dikasih botol susunya dia menolak dan langsung nangis gitulah Ms
Saya : Hah !!
Adel : Saya sedih banget Ms, saya sempat menyesal memberikan penjelasan itu, saya tidak bermaksud seperti itu, rasanya Sam mengerti, bahkan untuk tetap bersama maminya, dia rela menukar dengan botol susunya….
Saya : (saat itu, secara spontan mata saya berkaca-kaca, saya lihat Ms Adelia juga begitu, dia berusaha menyeka air matanya )
Yah, itulah anak-anak mereka mengerti, namun mereka memahaminya dengan caranya sendiri.
Hari ini , kembali perasaan yang sama mendera saya, Khal semakin besar, saya tahu pemahamannya semakin bertambah, sekarang di pagi hari, ketika saya mulai memanaskan motor, Khal sudah sibuk celingak-celinguk ke depan rumah, seolah bersikap siaga dan sadar kalau bundanya akan pergi meninggalkan dia. Namun, saya berusaha tegar, dan rasanya belajar dari cerita Ms Adel, saya mulai memilah kata-kata saya untuk menjelaskan ke Khal, walaupun saya merasa tidak ada kata yang tepat untuk mewakili penjelasan saya untuk Khal…maafkan bunda ya nak =)
Posted by: duniaires on: Desember 7, 2009
Ingat ibu Vio, yang saya ceritakan, seperti biasa pagi ini dia asik lagi bercerita tentang putranya :
“Ms, semaleman saya gak bisa tidur, karena setiap detik kayanya deh ms, si Vio bangunin saya mami udah pagi belom, mami udah jam sekolah ya ? wah macem-macem deh yang intinya dia pingin cepet2 pagi gitu ms, karena Vio semangat sekali karena hari ini mau fieldtrip ke taman safari, tentunya seperti biasa dengan planningnya waktu malem dia sudah siapkan semua loh, saya sama sekali tidak membantunya, akibatnya pagi ini kepala saya pusing dan badan saya lemmmes…..”
Hahahahhahahha itulah anak-anak pokoknya kalau urusan fieldtrip semangaaat, sedangkan para guru pusing kayanya ngatur bocah-bocah ini yang kelewat aktif baik gerakan maupun pertanyaan wkwkwkkwkwkwk…………..
Posted by: duniaires on: Desember 4, 2009
Khalila masih makan bubur tim tetapi tanpa disaring, namun karena ketrampilan mengunyahnya masih minim, untuk sayuran, tempe/tahu, atau ikan-ikannya masih saya campur dalam buburnya, hanya saja sekarang saya menambahkan kuah (sayur bening, sop, semur, sampai soto tetapi soto alakadarnya buatan saya saja he), yah untuk mulai mengenal variasi saja.
Jenis sayuran, biasanya saya hanya membelinya di tukang sayur atau pasar dekat rumah, jarang ke pasar swalayan kalaupun beli paling hanya untuk ikan-ikanan atau daging gilingnya saja.
Suatu hari, si datuk, Tanya ke saya kenapa badan Khal menguning, benarkah ? saya perhatikan, iya juga ya, khawatir wah bukan kepalang saya waktu itu pikiran saya mulai gak-gak,
Untuk memperkuat opini si datuk, saya Tanya teman juga kalau kebetulan lagi berkunjung ke rumah, jawabannya sama, kulit dan kuku Khal mulai menguning.
Lalu, apa kata abang “kalau itu memang penyakit kuning biasanya matanya juga tetapi ini matanya segar kok, harus Tanya DSA langsung kayanya…”
Walah, tanpa pikir panjang sore itu langsung saya bawa Khal, dag dig dug deh saya,
Pak DSA mulai melihat warna kuning di badan Khal, selang beberapa lama dia mulai bertanya :
DSA : maemnya doyan bu ?
Saya : iya kok dok
DSA : pake sayur bu ?
Saya : iya dok selalu
DSA : pake wortel bu ?
Saya : iya pake sering kok (kenapa ya si Bapak Tanya-tanya gini)
DSA : suka minum jus papaya, atau mangga bu
Saya : iya
DSA : akhir-akhir ini sering ?
Saya : ya kebetulan dok karena kebetulan lagi banyak di pasar (he jawaban apa adanya )
DSA : kenapa memangnya dok ? gak boleh ya ?
DSA : (hanya senyum-senyum) gak pa2 kok bu tetapi mungkin wortel, mangga, papaya yang mengandung zat beta karoten itu saat ini dikurangi dulu ya ?
Saya : hah ????
DSA : bukan penyakit kuning kok, kalaupun kuning benar kata suami ibu matanya pun ikut menguning.
Saya : lalu, kenapa seluruh tubuhnya Khal jadi menguning dok ?
DSA : karena kebanyakan zat beta karoten tersebut, yang terdapat pada makanan tersebut terutama wortel,sementara jangan dikasih dulu ya nanti warna kulitnya balik lagi kok….. (sambil terkekeh-kekeh)
Saya : Gubraks (dalam hati tak lupa, saya bersyukur, Alhamdulillah)…..
Posted by: duniaires on: Desember 3, 2009
Saya menyukai menjadi guru, berinteraksi dengan anak-anak, yang tadinya sedih bisa jadi seneng, atau yang jadi seneng bisa jadi sedih loh hihihi
Contohnya saat ini saat anak-anak ujian, saat akan menyambut liburan quarter 2, itu berarti saatnya mengisi raport anak, ah ini nih yang bikin seneng jadi sedih hehehhehehhe…
pusing, bukan kepalang,mengoreksi ujian anak, dan membaca tulisannya yang wujudnya aneka rupa, waddduh, deh belom lagi kalau ketemu ma si bocah langsung saya diberondong pertanyaan …
“Ms saya tesnya dapet berapa ?bagus ga ? lulus ga?”
serasa dappet deadline berjalan deh, kalau kaya gini pingin kabbur, waktu liburan yang hanya tinggal 2 minggu lagi aja jadi berasa lama banget,
wah kayanya ada seorang bocah lagi tuh menghampiri saya,
pura-pura mau ke toilet ah…=)
Posted by: duniaires on: Desember 2, 2009
Pagi ini saya mendengarkan curhat seorang ibu, yang tanpa saya tahu tiba-tiba dia datang ke saya, lalu asik larut bercerita …….
Panggil dia Vio ya, murid saya kelas 3 SD, si ibu itu bercerita panjang lebar tentang masalah sikap yang dihadapi anaknya ?
Masalah ? Saya mengajar Vio, tidak pernah ada masalah, dia murid saya yang pintar dan rapi bahkan untuk ukuran anak laki-laki loh….
Namun, saya mendengarkan saja keluh kesah si ibu,
“Iya, Ms saya akui anak saya pintar, dan saya bersyukur karenanya, tetapi tahukah ms kalau anak saya itu tipe anak yang tidak pernah bisa menerima kekalahan, dia hanya tau kemenangan saja.”
“Hah masa sih bu? Seorang Vio ?”
“Itulah yang membuat saya resah, saya justru takut kalau dia mengikuti suatu lomba, pernah Ms dia mengikuti kompetisi matematika, yah namanya hidupkan ms, dia kalah, saya baru sadar pulang ke rumah sedih sekali lalu mengurung diri, dan yang membuat saya terkejut dia memutuskan untuk berhenti total dari les matematikanya, dia seolah menghindari matematika yang membuat dia kecewa?”
Saya hanya manggut-manggut, sambil terus mendengarkannya dengan seksama,
“Saya tahu dia anak yang penuh planning bu, tetapi saya takut bagaimana dia menghadapi kekalahannya nanti yang mungkin lebih besar dalam kehidupannya, kalau belum apa-apa saja dia sudah down begini “
Saat itu, saya hanya mencoba memberikan saran untuk selalu berkomunikasi dengannya terutama saat Vio ‘jatuh’, saya juga memberikan saran untuk coba bergabung ekskul olahraga seperti basket atau taekwondo, saya rasa dalam bidang olahraga ini anak akan banyak belajar untuk bersikap sportif, walaupun saya berharap ajakan keikutsertaan ini jangan bersifat memaksa ya, biarkan Vio menikmatinya juga……
Maaf bu, hanya itu yang saya bisa sarankan saat ini,
Ah, ga sadar saya jadi banyak menulis kisah murid saya, sungguh bukan bermaksud apapun,
Saya mulai mempelajari sesuatu dari cerita si ibu, saya tahu intelektual itu penting dalam perkembangan seorang anak, namun dibalik itu semua, kemampuan seorang anak menyelesaikan masalah hidupnya, nampaknya menjadi hal yang tak bisa diabaikan,
Mampu menyelesaikan masalahnya ketika dia berhasil/sukses, sehingga tidak terjadi masalah sindrom karena kesuksesannya (baca :sombong dan sikap lainnya). Atau, bisa bangkit setelah menemukan kegagalan dalam hidupnya,
Ah, tampaknya ini menjadi PR saya juga, untuk bisa belajar mendidik Khal kelak…….